Thomas Huxley, yang bertanggung jawab atas masuknya ilmu pengetahuan ke dalam system sekolah di Inggris pada abad ke-19, dan ilmuan pertama yang membela teori Darwin, percaya bahwa reinkarnasi adalah hal yang sangat masuk akal. Dalam bukunya yang terkenal, "Evolution and ethics and other essays", dia berkata,
Dalam doktrin transmigrasi (kelahiran kembali), apapun alasannya, yang telah ditemukan oleh kaum Brahmana ataupun Buddha, siap untuk dipakai, merupakan alat untuk membangun pembuktian yang masuk akal mengenai asal-usul manusia. Sampai sekarang, pernyataan tentang kebenaran tersebut tidak kalah masuk akalnya dengan dalil-dalil yang lain; dan tak ada satu pun, kecuali pemikir yang gegabah, yang akan menolak teorema tersebut karena mustahil. Seperti doktrin evolusi itu sendiri, doktrin kelahiran kembali memiliki akar dari dunia yang nyata; hal in dapat dikatakan seperti itu, karena doktrin tersebut pada dasarnya dapat dibuktikan secara argumentative."
Profesor Julian Huxley, ilmuwan Inggris lainnya, yang pernah menjabat Direktur Jendral UNESCO percaya bahwa kelahiran kembali sejalan dengan pemikiran ilmiah. Beliau mengatakan,
"Tidak ada sesuatupun yang dapat melawan lepasnya roh individu yang masih tetap ada pada saat kematian, seperti pesan elektromagnetik yang dilepas oleh pemancar yang bekerja dengan cara tertentu. Tetapi perlu diingat bahwa pesan elektromagnetik itu menjadi pesan lagi ketika diterima oleh alat baru yang disebut penerima. Begitu juga dengan "roh" (kesadaran emanasi) kita. Kesadaran itu tidak dapat merasa ataupun berpikir, sampai kesadaran itu berwujud lagi dengan cara tertentu. Kepribadian kita sangat tergantung pada tubuh kita, karena akan tidak masuk akal seseorang dapat menerima ransang tanpa adanya bagian-bagian tubuh. Saya berpikir ada sesuatu yang dilepaskan pada saat kematian, yang mirip dengan pesan elektro magnetic yang dipancarkan oleh pemancar, tetapi pada kasus kematian ini, seperti yang dapat kita lihat, sesuatu itu tidak lebih dari gangguan dari pola-pola yang berbeda-beda yang mengembara di alam semesta sampai mereka kembali menjadi kesadaran yang nyata dengan jalan berhubungan dengan sesuatu yang dapat bekerja seperti pesawat penerima."
Beberapa waktu yang lalu, sebelum saya benar-benar menekuni profesi saya sebagai seorang ‘Penapak Jejak Kaki Sang Guru’, saya sering mengalami beberapa
kejadian yang sangat aneh dimana seolah-olah tempat kejadiannya, waktu terjadinya, keadaannya, orangnya, ucapan-ucapannya, serta kegiatan-kegiatan yang dilakukan, dan lain sebagainya, seakan-akan semuanya pernah saya alami, lihat, atau bahkan pernah saya lakukan sebelumnya, tetapi saya tidak bisa mengingat kapan dan dimana peritiwa itu pernah terjadi. Saya baru tersadar akan situasi tersebut setelah kejadian itu berlangsung ataupun sedang berlangsung dalam waktu beberapa lama. Barangkali anda juga pernah atau bahkan sering mengalami hal yang sama?
Dalam bahasa tren-nya, keadaan yang aneh tersebut dikenal dengan sebutan fenomena déjà vu. Déjà Vu (baca dei ?a’ vu), adalah sebuah istilah yang diambil dari bahasa Perancis yang kalau ditranslate ke dalam bahasa Inggris kurang lebih akan memiliki arti demikian ; ‘The strange feeling that in some way you have experienced already what is happening now’, (Cambridge International Dictionary of English). ‘Feeling that one remembers an event or scene that one has been experienced or seen before or too often’, (Oxford Advanced Learner’s of Current English). Jika diterjemahkan lagi ke dalam bahasa Indonesia kurang lebih akan menjadi demikian ; ‘Sebuah keadaan yang terasa asing, dimana sepertinya kita pernah mengalaminya dan sedang berlangsung saat ini’ (Cambridge), atau ‘seolah teringat akan sebuah kejadian atau pemandangan yang pernah dialami ataupun dilihat sebelumnya atau bahkan sering’ (Oxford).

Keanu Reeves, yang sangat terkenal karena memerankan Pangeran Siddharta dalam film Little Buddha dan aktor utama dalam the Matrix trilogy, baru-baru ini membintangi Constantine, film kondang lain yang bertemakan keagamaan. Seorang pendukung kuat Buddhisme, dia menyediakan introduksi, kemungkinan bersama Richard Gere, dalam tiga belas serial Menemukan Buddhisme di Rumah, masing-masing lamanya 30 menit, yang dipublikasikan oleh Foundation for the Preservation of the Mahayana Tradition (Yayasan untuk Pemeliharaan Tradisi Mahayana, FPMT). Dalam interview dengan Stephen Hamel, Keanu berbicara tentang perannya dalam film The Little Buddha, apa yang membuat dia tertarik pada Buddhisme, kesukaannya pada buku-buku Dalai Lama, dan bagaimana Buddhisme telah memberikan kepadanya sebuah arti kehidupan yang baru.
Hingga saat ini, masih banyak orang yang memiliki pandangan salah bahwa agama Buddha menyembah patung. Padahal patung hanya sebagai simbol yang mewakili sosok Hyang Buddha. Patung adalah satu produk budaya Buddhis untuk menghormat kepada Hyang Buddha. Dan celakanya, orang sering mencampuradukan antara agama dan budaya. Maka terjadilah salah persepsi dalam penggunaan patung.
Patung Buddha sendiri bukanlah produk asli dari India, tempat kelahiran agama Buddha, melainkan hasil perpaduan antara budaya klasik Yunani dengan agama Buddha yang berkembang selama hampir 1000 tahun ketika India di kuasai oleh Yunani di bawah pemerintahan Alexander Agung pada abad ke-4 S.M.
Seni Buddha-Yunani memiliki ciri khas realisme idealistik seni Yunani Helenis dan perwujudan pertama Hyang Buddha dalam bentuk manusia, yang telah membantu membentuk kanon seni dan terutama teknik perpatungan Buddha di seluruh benua Asia sampai sekarang.
Interaksi antara budaya Yunani dan Buddha berkembang di daerah Gandhara, yang sekarang terletak di Pakistan bagian utara, sebelum menyebar lebih lanjut ke India, memperngaruhi kesenian Mathura, dan kemudian kesenian Buddha kekaisaran Gupta, yang juga menyebar ke Asia Tenggara.