Yang Mulia Maha Bhikshuni Chen Yen

 


Semangat utamanya menjadi Bhiksuni adalah bertekad membawa semangat Bodhisattva Avalokitesvara untuk menolong umat manusia dari penderitaan dengan prinsip “Satu tangan bekerja sebanyak seribu tangan, satu mata melihat sebanyak seribu mata”.

Sikap mulia yang ditempuhnya ternyata dipengaruhi oleh gurunya, Maha Bhiksu Yin Shun (seorang Bhiksu yang berwibawa, terpelajar, rendah hati dan figur yang sangat pantas dijadikan teladan). Pada kesempatan yang langka, ia bertemu dan diterima sebagai murid dengan pesan untuk mau berbuat demi kebahagiaan umat manusia dan umat Buddha.

Selama 31 tahun memimpin Tzu-Chi Foundation, sudah banyak karya kemanusiaan yang dilakukannya.

Pada tahun 1991, menerima penghargaan Ramon Magsaysay (hadiah Nobel Perdamaian) dan berbagai penghargaan sosial dari negaranya. Presiden Taiwan, Lee Teng Hui pernah mengatakan : “Master Chen Yen telah mengukir bagian yang paling menyentuh dalam sejarah Taiwan”.


Nama aslinya Wang Chin Yun. Lahir pada tanggal 14 Mei 1937, di kota Fung-Yen, Taiwan. Ia diadopsi oleh pamannya ketika masih kecil dan pada usia 15 tahun, ia sudah vegetarian. Dua tahun kemudian, ayah angkat yang sangat disayanginya meninggal dunia. Kenyataan pahit ini terasa berat baginya. Tiap hari ia selalu merenung sambil bertanya pada diri sendiri : Manusia itu datangnya dari mana? Kalau meninggal pergi kemana? Apa tujuan manusia itu lahir? Dalam keadaan sedih dan bingung, ia teringat kata-kata di sebuah buku Dharma, pemberian Maha Bhiksu Miau Kuang yaitu : “setiap manusia yang hidup pasti mati”.


Akhirnya, ia memutuskan ke Vihara Chen-Yin di Taiwan untuk pelimpahan jasa bagi ayah angkatnya. Ketika itulah ia menyadari bahwa apapun yang dimiliki, tidak bisa dibawa serta hanya perbuatanlah yang akan mengikuti kita. Begitu pulang dari Vihara Chen-Yin, ia mulai serius memperdalami agama Buddha.


Pada suatu hari ia kembali ke Vihara Chen-Yin dan mengajukan pertanyaan “Wanita yang bagaimanakah yang paling bahagia?” kepada Bhiksu di Vihara tersebut. “Wanita yang membawa keranjang itulah yang paling bahagia. Apabila seorang wanita tidak bisa mengurus rumah tangga maka tidak akan dapat ditemukan kebahagiaan dalam sebuah keluarga.” jawab Bhiksu tersebut. Ia tidak puas dengan jawaban tersebut dan berpikir : Setiap hari ia membawa keranjang, mengapa tidak bahagia? Lalu arti keranjang itu apa? Ia terus mencari jawaban. Akhirnya ia menemukan maknanya yaitu apabila kita ingin memperoleh kebahagiaan maka harus membuat orang lain bahagia pula.


Pada saat ia pergi ke Hua-Lien, oleh seorang upasika, ia dibawa ke vihara Phu Ming dan membuatnya terkesima. Karena bangunan viharanya mirip dengan yang pernah dimimpinya sewaktu umur 15 tahun. Merasa berjodoh dengan vihara ini, akhirnya ia memohon izin untuk membangun sebuah rumah berukuran 3m2 x 3.6 m2 dibelakang vihara untuk melatih diri.


Pada bulan Februari 1963, di Vihara Ling Ci, kota Tia-Pei, membuka pendaftaran latihan sila. Ia tidak mendapat izin untuk ikut karena tidak mempunyai guru pembimbing Dharma. Ia merasa sedih atas penolakan dirinya dan mengunjungi perpustakaan di Vihara Ling Ci untuk membeli buku Dharma karangan Maha Bhiksu Yin Shun. Tanpa disangka, ia bertemu Maha Bhiksu Yin Shun dan mohon diterima sebagai murid. Dengan kemauan dan usaha kerasnya, ia berhasil diterima sebagai murid pada usia 26 tahun dan diberi nama Chen Yen. Nasehat dari Maha Bhiksu Yin Shun yang diingat dan memberkas di hatinya sampai kini adalah “Kamu sudah meningglkan kehidupan duniawi, harus mau berbuat demi umat manusia dan agama Buddha.”


Karena sudah mendapat guru pembimbing Dharma, ia kembali ke tempat pendaftaran dan diizinkan mengikuti latihan sila. Selesai latihan ia kembali ke rumah untuk memperdalami sutra “Fa Hua Ching” Ia bertekad membawa semangat Bodhisatva Avalokitesvara untuk menolong manusia. Di mana ada orang menderita, disitulah ia akan hadir untuk menolong.


Dua tahun kemudian, ia berjalan-jalan ke rumah sakit untuk mengunjungi teman yang sakit. Di pintu masuk, ia terhenti karena terkejut melihat genangan darah di lantai. “Apa yang terjadi disini?” tanyanya. “Seorang wanita desa yang keguguran dibawa keluarganya ke sini. Mereka tidak mempunyai uang muka sehingga wanita itu diminta pergi.” jawab orang itu


Apakah manusia sudah begitu kejam sehingga tega mengusir kaum sakit dari rumah sakit hanya karena tidak mempunyai uang? ia bertanya kepada dirinya sendiri. Ia tidak dapat berkata apa-apa, kejadian mengerikan di rumah sakit masih mengganggu pikirannya. Dia sudah tahu apa yang harus dikerjakan.


Dengan bantuan beberapa gadis desa yang telah kenal baik dengannya, ia menebang batang bambu dan membuatnya menjadi mangkuk lalu memberikan mangkuk itu kepada 30 ibu rumah tangga yang biasa mengunjunginya. "Sebelum kalian pergi ke pasar setiap hari, ambillah 50 sen dari uang belanja kalian dan simpanlah ke dalam mangkuk untuk disumbangkan bagi kaum miskin?” jelasnya.


”Bukankah lebih mudah jika kita menyumbang 15 dollar setiap akhir bukan?” tanya mereka. “Tidak, jika berdana sebulan sekali, kalian melakukan perbuatan baik hanya sekali sebulan?”


Para ibu tersebut mulai menabung, memberi makanan,pakaian, dan tempat tinggal untuk disumbangkan ke keluarga miskin dan tuna wisma, dan kaum tua yang hidup sebatang kara mereka dampingi dan rawat.


Setelah kabar perbuatan mereka tersebar, semakin banyak sukarelawan yang mengajukan diri untuk ikut serta. Maka pada tahun 1976, ia memelopori yayasan dana Buddhis Tzu-Chi. “Anda bukanlah sekedar mengumpulkan dana, tetapi waktu, tenaga, dan kasih sayang kepada sesama, itulah yang amat dibutuhkan.” ucapnya kepada mereka. Menyadari akan pentingnya kebutuhan kesehatan, ia pun bertekad untuk mendirikan rumah sakit modern yang tidak akan menolak siapa pun.


Berita pendirian rumah sakit modern berperalatan lengkap menggugah perasaan rakyat Taiwan. Hasilnya, dana sebesar 700 dollar Taiwan terkumpul. Dan pada tanggal 17 Agusuts 1986, 100 ranjang di rumah sakit Umum Buddhis Tzu-Chi siap melayani pasien.


Suatu hari, seorang gadis berusia 15 tahun mengalami kerusakan otak berat akibat kecelakaan mobil. Setibanya di rumah sakit, gadis itu berada dalam keadaan koma. “Pasien dengan kecelakaan seperti itu tipis harapannya untuk diselamatkan jika rumah sakit Buddhis Tzu-Chi belum berdiri” ungkap Dr. Tsai Swei Chang. Selang sehari kemudian, kondisi gadis itu membaik.


Rumah sakit ini penuh kasih sayang dan merupakan vihara yang dapat menyembuhkan secara fisik maupun psikologis. Dokter yang tidak berhasil menyembuhkan pasien, dengan rendah hati meminta maaf dengan air mata berlinang di pipinya. Baginya, senyum pasien adalah hal yang terindah di dunia ini.

Empat misi utama Tzu-Chi adalah amal, pengobatan, pendidikan dan kebudayaan. Sedangkan kata Tzu-Chi merupakan : Tzu - Phei - Si - Se. Tzu artinya memberikan cinta kasih dengan tulus ikhlas tanpa penyesalan. Phei artinya tabah dalam mengalami kesusahan dan celaan. Si artinya sikap saling menghargai, menghormati dan mengasihi. Se artinya apabila kita memberi, jangan menuntut balasan.


Pesan Maha Bhikshuni Chen Yen :”Bersikaplah bagaikan butiran-butiran beras berkumpul menjadi satu karung, bagaikan tetesan-tetesan air berkumpul menjadi sungai. Dalam mengerjakan sesuatu, kita harus memiliki keyakinan bahwa jika kita merasa apa yang akan dikerjakan itu benar dan dikerjakan dengan cara yang benar maka kerjakanlah dan pasti akan berhasil.”


”With love, one can help one self and help others with one best abilities” This inspirational education of love is Tzu Chu Culture.