Empat fakta mengenai seseorang, o para bhikkhu, dapat diketahui dari empat keadaan ini. Apakah yang empat itu?
Dengan hidup bersama seseorang, maka moralitasnya dapat diketahui. Hal ini pun baru diketahui setelah waktu yang lama, bukan secara asal-asalan; dengan pengamatan dari dekat, bukan tanpa pengamatan; oleh orang yang bijak, bukan oleh orang yang dungu.
Dengan mengadakan hubungan dengan seseorang, maka integritasnya dapat diketahui. Hal ini pun baru diketahui setelah waktu yang lama, bukan secara asal-asalan; dengan pengamatan dari dekat, bukan tanpa pengamatan; oleh seseorang yang bijak, bukan oleh orang yang dungu.
Di dalam kemalangan, maka ketabahan seseorang dapat diketahui. Hal ini pun baru diketahui setelah waktu yang lama, bukan secara asal-asalan; dengan pengamatan dari dekat, bukan tanpa pengamatan; oleh seseorang yang bijak, bukan oleh orang yang dungu.
Lewat percakapan, maka kebijaksanaan seseorang dapat diketahui. Hal ini pun baru diketahui setelah waktu yang lama, bukan secara asal-asalan; dengan pengamatan dari dekat, bukan tanpa pengamatan; oleh seseorang yang bijak, bukan oleh orang yang dungu.
(1) Dikatakan, "Dengan hidup bersama seseorang, maka moralitasnya dapat diketahui." Berdasarkan apa hal ini dikatakan? Hidup bersama seseorang, orang bisa mengenalnya demikian, "Setelah waktu yang lama, tindakan-tindakan orang ini ternyata menunjukan kelemahan, cacat, noda, dan cela berkenaan moralitasnya; dan secara moral dia tidak sesuai di dalam tindakan dan perilaku. Orang ini adalah orang yang bermoral; dia tidak luhur."
Di dalam kasus lain, ketika hidup bersama seesorang, orang bisa mengenalnya demikian, "Setelah waktu yang lama, tindakan-tindakan orang ini ternyata tidak menunjukan kelemahan, cacat, noda, dan cela berkenaan dengan moralitasnya; dan secara moral dia sesuai dengan tindakan dan perilaku. Orang ini adalah orang yang bermoral; dia bukan orang yang tidak bermoral."
Berdasarkan hal inilah maka dikatakan, "Dengan hidup bersama seseorang, maka moralitasnya dapat diketahui."
(2) Selanjutnya dikatakan, "Dengan mengadakan hubungan dengan seseorang, maka integritasnya dapat diketahui." Berdasarkan apa hal ini dikatakan? Mengadakan hubungan dengan seseorang, orang bisa mengenalnya demikian, "Orang ini berkelakuan begini pada satu orang dan berkelakuan lain pada dua, tiga, atau lebih. Perilaku sebelumnya menyimpang dari perilaku sesudahnya. Perilaku orang ini tidak jujur; dia tidak berprilaku jujur."
Di dalam kasus lain, ketika mengadakan hubungan dengan seseorang, orang bisa mengenalnya demikian, "Dengan cara yang sama, dia berkelakuan pada satu orang, seperti di a berkelakuan pada dua, tiga orang atau lebih. Perilaku sebelumnya tidak menyimpang dari perilaku sesudahnya. Perilaku orang ini jujur; dia bukan orang yang tidak jujur." Berdasarkan halk inilah maka dikatakan, "Dengan mengadakan hubungan dengan seseorang, maka integritasnya dapat diketahui."
(3) Selanjutnya dikatakan, "Di dalam kemalangan, maka ketabahan seseorang dapat diketahui," Berdasarkan apa hal ini dikatakan? Ada orang yang menderita kehilangan sanak keluarga, kekayaan atau kesehatan, tetapi dia tidak merenungkan demikian, "Inilah sifat alami kehidupan didunia ini, inilah sifat alami kemampuan keberadaan individu, bahwa delapan kondisi duniawi terus membuat dunia berputar, dan dunia memutar delapan kondisi duniawi ini, yaitu: untung dan rugi, terkenal dan tercemar, dipuji dan dicela, senang dan menderita. "Tanpa mempertimbangkan hal ini, dia berduka dan khawatir, dia meratap dan memukuli dadanya, dan menjadi gelisah menderita kehilangan sanak keluiarga, kekayaan atau kesehatannya.
Dalam kasus lain, ketika seseorang menderita kehilangan sanak keluarga, kekayaan, atau kesehatan, dia merenungkan demikian, "Inilah sifat alami kehidupan di dunia ini, inilah sifat alami kemampuan keberadaan individu, bahwa delapan kondisi duniawi terus membuat dunia berputar, dan dunia memutar delapan kondisi duniawi ini, yaitu: untung dan rugi, terkenal dan tercemar, dipuji dan dicela, senang dan menderita." Dengan mempertimbangkan hal ini, dia berduka atau khawatir, atau meratap dan memukuli dadanya, atau menjadi gelisah ketika menderita kehilangan sanak keluarga, kekayaan, atau kesehatan.
Berdasarkan hal inilah maka dikatakan, "Di dalam kemalangan maka ketabahan seseorang dapat diketahui."
(4) Selanjutnya dikatakan, "Lewat percakapan maka kebijaksanaan seseorang dapat diketahui." Berdasarkan apa hal ini dikatakan? Ketika bercakap-cakap dengan seseorang, orang bisa mengenalnya demikian, "Di nilai dari cara orang ini memeriksa, merumuskan dan mengemukakan masalah, dia adalah orang yang dungu, bukan orang yang bijaksana. Mengapa? dia tidak menyampaikan kata-kata yang dalam, menenangkan, luhur, melampaui penalaran biasa, halus, dapat dipahami oleh para bijaksana. Ketika berbicara tentang Dhamma, dia tidak mampu menjelaskan artinya, baik secara singkat maupun terperinci. Dia adalah orang dungu, bukanlah orang bijaksana."
seperti halnya, para Bhikkhu bila orang yang baik pengelihatannya bediri ditepi kolam, dia akan melihat ikan kecil muncul dan berpikir, "Di nilai dari munculnya, dari riak yang disebabkan oleh ikan ini dan dari kecepatannya, ini adalah ikan kecil, bukan ikan besar." Demikian juga, ketika bercakap-cakap dengan seseorang, orang bisa mengenalnya, "Ini adalah orang dungu, bukan orang bijaksana."
Dalam kasus lain, ketika bercakap-cakap dengan seseorang, orang bisa mengenalnya demikian, "Di nilai dari cara orang ini memeriksa merumuskan dan mengemukakan masalah, dia adalah orang bijaksana, bukan orang yang dungu. Dia menyampaikan kata-kata yang dalam, menenangkan, luhur, melampaui penalaran biasa, halus, dapat di[ahami opleh para bijaksana. ketika berbicara tentang Dhamma, dia mampu menjelaskan artinya, baik secara singkat maupun terperinci. Dia adalah orang yang bijaksana, bukan orang dungu."
Seperti halnya, para Bhikkhu, bila orang yang baik pengelihatannya berdiri ditepi kolam, dia akan melihat ikan besar muncul dan berpikir, "Dinilai dari munculnya, dari riak yang disebabkan oleh ikan ini dan dari kecepatannya, ini adalah ikan besar bukan ikan kecil." Demikian juga, ketika bercakap-cakap dengan seseorang, orang bisa mengenalnya, "Ini adalah orang bijaksana, bukan orang dungu." Berdasarkan hal inilah maka dikatakan, "lewat percakapan maka kebijaksanaan seseorang dapat diketahui."
Inilah, para Bhikkhu, empat fakta tentang seseorang yang dapat diketahui dari empat keadaan di atas.
(Anguttara Nikaya IV, 192)