
Diterjemahkan dari : Buddhism and Environmentalism
Oleh Sulak Sivaraksa dan Sonali Chakravarti
Pada tahun 2001, pergerakan Lingkungan Hidup Buddhis mengemban amanat yang istimewa. Buddhisme telah dihubungkan dengan hal-hal yang berkenaan dengan lingkungan selama 2500 tahun lebih dan terdapat banyak literatur akademik dan spiritual tentang topik tersebut dan sebagai seorang Buddhis kita memiliki tanggung jawab untuk berbagi pengetahuan kepada orang lain yang dapat mencegah kerusakan lingkungan saat ini. Protes pada tahun 2000 telah membuat isu globalisasi, kapitalisme, dan ekploitasi tenaga kerja dan sumber daya alam menjadi pusat perhatiaan. Banyak orang yang bertekad untuk memikirkan paradigma baru untuk membangun berdasarkan prinsip keberlanjutan (sustainability) daripada prinsip yang ada sebelumnya. Terdapat potensi untuk membentuk perserikatan dan kelompok yang sejalan dan lebih harmonis dengan alam.
Konsep kemunculan yang saling bergantungan (Paticca Sammuppada) merupakan pemahaman Buddhis yang pokok. Tidak ada sesuatu yang terbentuk sendirian karena semuanya terjadi seperti jaringan permata Indra, masing-masing individu merefleksikan orang lain secara tak terhingga berkali-kali. Kemelekatan yang kuat akan adanya diri atau ’aku’ bertentangan dengan Paticca Sammuppada dan merintangi seseorang mencapai pencerahan. Tanggung jawab pada alam dan rasa menghargai terhadap semua kehidupan dapat membantu meningkatkan perubahan dari diri yang individualis menjadi diri yang peduli terhadap sesama (interbeing). Thich Naht Hanh, biku Vietnam yang terkenal, menggunakan istilah interbeing untuk menjelaskan diri ini yang sesungguhnya tanpa inti. Menurut Thich Naht Hanh, ‘diri’ adalah sesuatu yang sepenuhnya ‘terbuat’ dari unsur-unsur ‘bukan-diri’. Mengakui unsur-unsur ‘bukan-diri’ ini berarti menyadari betapa kelangsungan hidup dan kemampuan berkembang sesosok makhluk hidup adalah sepenuhnya tergantung pada interaksinya dengan makhluk-makhluk hidup lainnya.
Buddha mengajarkan adanya fenomena dukkha dan sekaligus mengajarkan jalan menuju lenyapnya dukkha. Jika pengembangan kebijaksanaan dan cinta kasih merupakan jalan akhir yang dapat kita tempuh, terdapat tiga sumber penderitaan dalam diri kita yang harus dilenyapkan, yaitu lobha, dosa, dan moha (greed, hatred, and delusion). Moha dapat mengambil bentuk berupa kemelekatan pada diri, ego, uang, atau kekuasaan dan dapat juga berupa kepercayaan bahwa manusia adalah makhluk tertinggi dalam kehidupan ini dan seharusnya memandang semua bentuk lainnya semata-mata dari sudut pandang fungsional. Kemelekatan terhadap kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi sebagai kunci kemajuan dan gaya hidup yang dapat membuat lebih bahagia juga merupakan bentuk lain dari moha. Frustasi dan kegagalan merupakan akibat samping dari moha. Beberapa orang takut bahwa sekali mereka memahami realitas dunia ini dan hukum universal tentang dukkha, mereka akan dibanjiri oleh sejumlah pekerjaan untuk dilakukan dan disibukkan oleh tingkat komitmen yang diambil. Kelumpuhan ini sendiri merupakan bagian dari pandangan yang bersifat delusi terhadap kesuksesan, akibat, dan harga diri/kebaggaan. Perubahan secara sosial terhadap pandangan holistik tidak akan terjadi pada kehidupan kita saat ini. Jalan mencapai Nibbana harus didahulukan daripada hasil akhir, kita harus memiliki keyakinan pada jalan dengan pandangan yang lebih luas terhadap Paticca Sammuppada (saling ketergantuangan). Kesuksesan datang dalam bentuk kemenangan kecil, transformasi diri, dan kekuatan persaudaraan.
Interpretasi ajaran tentang dukkha dan realisasi sering digunakan bersama dengan referensi khusus lainnya di teks Buddhis untuk menciptakan filosofi lingkungan Buddhis yang lebih lengkap. Dhamma Rain merupakan koleksi essai yang mencakup teks suci yang menekankan penghargaan tehadap kehidupan, alam sebagai guru, dan sifat dasar dari sifat dasar. Kutipan berikut dari Metta Sutta, sebuah paritta penting dalam tradisi Theravada:
Makhluk hidup apapun juga, Yang bergerak ataupun tidak bergerak tanpa kecuali, Yang panjang atau yang besar, Yang sedang, pendek, ataupun yang kuat, Yang terlihat ataupun yang tak terlihat Yang jauh maupun yang dekat Yang telah lahir maupun yang akan lahir Semoga semua makhluk berbahagia (Dharma Rain 29-30)
Ketenangan hati dalam hidup tidak menuntun semata-mata untuk bertoleransi atau tidak merugikan/ melukai/mencelakakan, hal itu menuntun pada sesuatu yang lebih besar dan lebih banyak permintaannya—hal itu menuntun pada cinta kasih pada semua makhluk hidup seperti cinta kasih seorang ibu pada anaknya. Metafora hujan (rain) tersebut bagi ajaran Buddha merupakan metafora yang powerful untuk ketenangan hati semua makhluk hidup apapun; karena, meski kompleks, keseimbangan alam semesta ini memungkinkan setiap makhluk hidup di dalamnya menikmati berkah dari kekuatan hujan, sebuah kekuatan yang menghadirkan kehidupan. Masing-masing hanya mengambil secukupnya dan membagikan sisanya.
Perubahan musim adalah fakta ketidakkekalan dan perubahan, kematian, dan kelahiran yang tak dapat dielakkan. Pemahaman tentang sifat dasar perubahan dan respon untuk berubah ini menandai aspek utama lainnya di lingkungan Buddhis: memahami sifat dasar Dharma, atau dengan kata lain, sifat alami alam (the nature of nature). Kematian dalam lingkaran kehidupan tidak harus ditakuti, hal itu seharusnya diterima dan dipahami untuk memberikan arti hidup ini. Ekspresi nature of nature di Buddhisme menggabungkan konsep untuk menghargai kehidupan dan alam sebagai guru. Keheningan pohon, sifat lentur pohon, kesabaran serangga, kokohnya bumi semua ini adalah sifatsifat yang harus digali dari dalam diri, dan, syukursyukur, dilaksanakan. Nilai nonaksi—kebijkasanan dari rasa hening dan sunyi—terbaik dapat dipelajari dari alam. Sebagaimana yang Thic Naht Hanh tulis, “Kita seharusnya membungkukkan diri menghormati kupu-kupu monarch dan pohon magnolia. Perasaan menghargai semua makhluk akan membantu kita mengenali sifat yang paling mulia dalam diri kita” (Hanh 164).
Anthroposentris (regarding humankind as the most important element of existence) bertentangan dengan banyak konsep di Buddhisme, termasuk penghormatan pada semua kehidupan. Namun hal itu merupakan pusat perhatian perkembangan kepercayaan tradisi yang bertujuan untuk mengendalikan dan mengeksploitasi lingkungan untuk kepentingan manusia. Anthroposentris menempatkan manusia pada tingkatan inteligensi dan pemahaman tertinggi dan dengan demikian memandang makhluk lain kurang berkembang. Pandangan ini mengabaikan kebenaran yang dalam yang ditemukan di alam dan menekankan nilai fungsional alam sebagai makanan, bahan bakar, dan tempat perlindungan. Pandangan yang lebih holistik (the theory that certain wholes are greater than the sum of their parts) menerima aturan sifat ini tetapi hanya dalam konteks penghormatan dan tanggung jawab.
Banyak orang Asia Tenggara telah memahami filosofi dan spiritual Buddhisme sebagai mandat untuk bekerja untuk kepentingan semua makhluk hidup. NGO’s telah berperan penting dalam proses ini, sedangkan peran komunitas religius juga penting sekali. Golongan tertentu, seperti Phra Sekhiyadhamma dan Maha Ghosanande dari Kamboja telah lama melakukan aktivitas sosial yang berkenaan dengan alam. Saya baru-baru ini merupakan bagian dari proyek Ariyavinaya (noble discipline) untuk mentransformasikan Sangha. Ariyavinaya berarti kode tingkah laku dan aturan disoplin yang penting dalam hidup biku dan bikuni. Pada umumnya, hal itu merupakan hubungan antara latihan spiritual dan tindakan praktik. Proyek Ariyavinya terdiri dari serangkaian workshop yang fokus pada bagaimana komunitas Buddhis dapat memperbaiki kekerasan struktural dan konsumerisme di masyarakat. Workshop tersebut menekankan kebutuhan akan tanggung jawab sosial yang lebih besar di komunitas kebiaraan, perhatian pada isu gender di Buddhisme, dan pendidikan alternatif.