Empat fakta mengenai seseorang, o para bhikkhu, dapat diketahui dari empat keadaan ini. Apakah yang empat itu?
Dengan hidup bersama seseorang, maka moralitasnya dapat diketahui. Hal ini pun baru diketahui setelah waktu yang lama, bukan secara asal-asalan; dengan pengamatan dari dekat, bukan tanpa pengamatan; oleh orang yang bijak, bukan oleh orang yang dungu.
Dengan mengadakan hubungan dengan seseorang, maka integritasnya dapat diketahui. Hal ini pun baru diketahui setelah waktu yang lama, bukan secara asal-asalan; dengan pengamatan dari dekat, bukan tanpa pengamatan; oleh seseorang yang bijak, bukan oleh orang yang dungu.
Di dalam kemalangan, maka ketabahan seseorang dapat diketahui. Hal ini pun baru diketahui setelah waktu yang lama, bukan secara asal-asalan; dengan pengamatan dari dekat, bukan tanpa pengamatan; oleh seseorang yang bijak, bukan oleh orang yang dungu.
Lewat percakapan, maka kebijaksanaan seseorang dapat diketahui. Hal ini pun baru diketahui setelah waktu yang lama, bukan secara asal-asalan; dengan pengamatan dari dekat, bukan tanpa pengamatan; oleh seseorang yang bijak, bukan oleh orang yang dungu.
Suatu hari Meghiya lapor kepada Buddha bahwa Nanda sering murung dan tampak tidak bahagia. Beberapa hari lalu Nanda mengaku di hadapan Meghiya bahwa dia sangat merindukan tunangannya, Kalyani yang sekarang tinggal di Kapilawastu. Nanda bilang, “Aku masih teringat persis ketika hari itu aku membawa mangkuk sedekah Buddha kembali ke Taman Nigroda, ketika saya pergi, Kalyani menatap mataku dan bilang ‘Cepat Pulang yah sayang, Aku menunggumu!’ Aku masih ingat persis rambut hitam terurai indah melewati pundaknya. Wajah Kalyani selalu muncul dalam meditasi duduk. Setiap kali aku melihat dia muncul dalam pikiranku, hatiku penuh dorongan. Aku tidak bahagia hidup seperti ini sebagai biksu”.
Hari berikutnya, Buddha mengundang Nanda pergi jalan santai, mereka berdua berjalan menuju sebuah danau meninggalkan Jetawana, Tiba di sana Buddha dan Nanda duduk di atas sebongkah batu rata yang besar sama-sama memandang ke arah danau, airnya tenang dan jernih, di pinggiran danau ada sekelompok itik yang berenang riang gembira, burung berkicau di atas ranting pohon.
Buddha kemudian membuka pembicaraan, “Ada beberapa orang memberitahuku kalau Nanda kurang bahagia hidup sebagai biksu, apakah benar demikian?”
Nanda diam sejenak, setelah beberapa saat, Buddha bertanya lagi, “Apakah Nanda sudah siap pulang ke Kapilawastu untuk memangku tahta raja?”
Sambil terbata-bata Nanda membalas, “Tidak, tidak, Aku sudah bilang kalau aku kurang tertarik dengan politik, aku tak sanggup mengurus kerajaan, aku juga tak mau jadi raja.”
Engkau dapat menjadi seorang prajurit kebenaran,
tetapi bukanlah seorang penyerang.
Suatu hari, Sinha, seorang tentara, mengunjungi Guru Buddha dan mengatakan, “O Bhagava, saya adalah seorang tentara yang ditunjuk oleh raja untuk menegakkan hukum dan berperang. Guru Buddha mengajarkan cinta kasih yang universal, kebaikan, dan kasih sayang untuk makhluk yang menderita. Apakah Buddha mengizinkan pemberian hukuman untuk para penjahat? Dan juga, apakah Buddha menyatakan bahwa berperang demi melindungi rumah, istri, anak-anak, dan harta kita adalah salah? Apakah Buddha mengajarkan agar kita menyerahkan diri sepenuhnya? Apakah saya harus menderita dengan melakukan apa yang disenangi oleh para pelaku kejahatan dan memberikan secara patuh kepadanya yang mengancam akan mengambil secara paksa apa yang menjadi milik saya? Apakah Buddha menetapkan bahwa semua perselisihan termasuk berperang demi alasanalasan yang pantas seharusnya dilarang?”

Diterjemahkan dari : Buddhism and Environmentalism
Oleh Sulak Sivaraksa dan Sonali Chakravarti
Pada tahun 2001, pergerakan Lingkungan Hidup Buddhis mengemban amanat yang istimewa. Buddhisme telah dihubungkan dengan hal-hal yang berkenaan dengan lingkungan selama 2500 tahun lebih dan terdapat banyak literatur akademik dan spiritual tentang topik tersebut dan sebagai seorang Buddhis kita memiliki tanggung jawab untuk berbagi pengetahuan kepada orang lain yang dapat mencegah kerusakan lingkungan saat ini. Protes pada tahun 2000 telah membuat isu globalisasi, kapitalisme, dan ekploitasi tenaga kerja dan sumber daya alam menjadi pusat perhatiaan. Banyak orang yang bertekad untuk memikirkan paradigma baru untuk membangun berdasarkan prinsip keberlanjutan (sustainability) daripada prinsip yang ada sebelumnya. Terdapat potensi untuk membentuk perserikatan dan kelompok yang sejalan dan lebih harmonis dengan alam.
Konsep kemunculan yang saling bergantungan (Paticca Sammuppada) merupakan pemahaman Buddhis yang pokok. Tidak ada sesuatu yang terbentuk sendirian karena semuanya terjadi seperti jaringan permata Indra, masing-masing individu merefleksikan orang lain secara tak terhingga berkali-kali. Kemelekatan yang kuat akan adanya diri atau ’aku’ bertentangan dengan Paticca Sammuppada dan merintangi seseorang mencapai pencerahan. Tanggung jawab pada alam dan rasa menghargai terhadap semua kehidupan dapat membantu meningkatkan perubahan dari diri yang individualis menjadi diri yang peduli terhadap sesama (interbeing). Thich Naht Hanh, biku Vietnam yang terkenal, menggunakan istilah interbeing untuk menjelaskan diri ini yang sesungguhnya tanpa inti. Menurut Thich Naht Hanh, ‘diri’ adalah sesuatu yang sepenuhnya ‘terbuat’ dari unsur-unsur ‘bukan-diri’. Mengakui unsur-unsur ‘bukan-diri’ ini berarti menyadari betapa kelangsungan hidup dan kemampuan berkembang sesosok makhluk hidup adalah sepenuhnya tergantung pada interaksinya dengan makhluk-makhluk hidup lainnya.