Raja Maitrabala Mempersembahakan Sebuah Hadiah
- Details
- Category: GABI
- Published on Monday, 04 April 2011 05:01
- Written by Upa.Kusalaviro
- Hits: 235
Demikian yang telah saya dengar pada suatu ketika:
Yang Tercerahkan berdiam di kota ?r?vast?, biara Jetavana di Taman An?thapindika. Pada suatu ketika ?nanda sedang berpindapatta, dia duduk di sebuah taman yang sepi dan berpikir: “Adalah mujizat Yang Mencapai Penerangan Sempurna datang ke bumi dan membawa kesenagan untuk banyak makhluk dan karena Kelima orang yang dipimpin oleh Kaundinya telah melakukan kebajikan di masa lampau, pintu Dharma telah dibuka dan mereka memasukinya. Genderang Dharma telah disuarakan dan mereka menjadi yang pertama mendengarkan. Mereka, juga, yang pertama kali yang merasakan nektar dari Dharma.”
Setelah bangun, dia pergi kepada Buddha dan memberitahu mereka apa yang dia pikirkan. Buddha berkata: “?nanda, pada masa lampau ketika Kelima yang dipimpin oleh Kaundinya kelaparan dan mati karena haus, saya memberi makan mereka dengan tubuhku sendiri dan memberikan mereka darahku sendiri untuk diminum dan menyebabkan mereka berbahagia. Sekarang saya telah mencapai Penerangan Sempurna, saya telah membuat mereka berada dalam jalan menuju pembebasan. Ini bukanlah tanpa sebab dan alasan.”
Kemudian Yang Mulia ?nanda berkata kepada Buddha: “Sang Bhagava, saya mohon kepadamu untuk menghitung kembali berapa kali di kehidupan masa lampau Engkau telah memuaskan kelaparan dan kehausan dan membuat mereka senang. Jika mereka sekarang mendengar ini, mereka akan mengerti.”
Yang Tercerahkan berkata: “?nanda, beberapa kalpa yang lalu, kalpa yang tak dapat dihitung, ada seorang raja di Jambudv?pa yang bernama Maitrabala yang mempunyai 84.000 raja kecil. Dia mempunyai 20.000 ratu dan 10.000 pangeran. Raja ini diberkahi dengan cinta dan welas asih, belajar Empat Kemulian Tanpa Batas, dan dalam Welas Asihnya semua makhluk hidup diperintah sesuai sepuluh kebajikan. Semua menghormati sang raja, dan karena kemuliaannya tidak ada musuh di tanah itu dan tanah itu bahagia.
“Makhluk berpenyakit menular, setan preta, yang kekurangn darah dan kesehatan, tidak tertolong, tanpa kekuatan dan mereka akan mati di tanah itu hal ini dikarenakan semua orang menjaga ucapan, pikiran, dan perbuatan mereka dan mempraktikan 10 kebajikan. Pada suatu ketika 5 yaksa muncul dihadapan raja dan berkata: ‘Oh, raja, kami kelaparan dan hidup kami dalam bahaya. Ketika kami mencoba untuk memperoleh tubuh dan darah manusia kami tidak dapat karena semua orang dikerajaanmu mempraktikkan 10 kebajikan. Tanpa makanan dan minuman, kami akan mati. Raja agung, Mengapa dalam welas asihmu engkau begitu kejam?’
Dua Ekor Singa
- Details
- Category: GABI
- Published on Friday, 25 March 2011 09:10
- Written by Upa.Kusalaviro
- Hits: 394

Suatu sore di tengah telaga, terlihat dua orang yang sedang memancing. Tampaknya, ada ayah dan anak yang sedang menghabiskan waktu mereka disana. Dengan perahu kecil, keduanya sibuk mengatur joran dan umpan. Air telaga bergoyang perlahan, membentuk riak-riak air. Gelombangnya mengalun menuju tepian, menyentuh sayap-sayap angsa yang sedang berjalan beriringan. Suasana begitu tenang, hingga terdengar sebuah percakapan.
"Ayah."
"Hmm..ya.." Sang ayah menjawab pelan. Matanya tetap tertuju pada ujung kailnya yang terjulur.
"Beberapa malam ini," ucap sang anak, "aku bermimpi aneh. Dalam mimpiku, ada dua ekor singa yang tampak sedang berkelahi dalam hatiku. Gigi-gigi mereka, terlihat runcing dan tajam. Keduanya sibuk mencakar dan menggeram, seperti saling ingin menerkam. Mereka tampak ingin saling menjatuhkan."
Anak muda ini terdiam sesaat. Lalu, mulai melanjutkan cerita, "singa yang pertama, terlihat baik dan tenang. Geraknya perlahan namun pasti. Badannya pun kokoh dan bulunya teratur. Walaupun suaranya keras, tapi terdengar menenangkan buatku."
Ayah mulai menolehkan kepala, dan meletakkan pancingnya di pinggir haluan. "Tapi, Ayah, singa yang satu lagi tampak menakutkan buatku. Geraknya tak beraturan, sibuk menerjang kesana-kemari. Punggungnya pun kotor, dan bulu yang koyak. Suaranya parau dan menyakitkan. "Aku bingung, apakah maksud dari mimpi ini. Apakah singa-singa itu adalah gambaran dari sifat-sifat baik dan buruk yang aku punya? Lalu, singa yang mana yang akan memenangkan pertarungan itu, karena sepertinya mereka sama-sama kuat?

